Portnews.id – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kementerian Perhubungan memperketat pemantauan dan pemeriksaan terhadap fasilitas transportasi laut di sejumlah pelabuhan di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi infrastruktur tetap aman sekaligus menjaga keselamatan pengguna jasa, petugas, dan keberlangsungan operasional pelabuhan.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, menyampaikan keprihatinan dan duka cita atas bencana yang terjadi di NTT. Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam penanganan fasilitas pelabuhan yang terdampak.
Masyhud menginstruksikan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Hubla di wilayah terdampak untuk meningkatkan pengawasan setidaknya selama 24–48 jam setelah gempa. Pemeriksaan dilakukan terhadap berbagai fasilitas, mulai dari struktur dermaga, trestle, apron, fender, bollard, terminal penumpang, fasilitas listrik dan BBM, peralatan bongkar muat, alur pelayaran, hingga akses menuju pelabuhan.
“Fasilitas yang mengalami keretakan, deformasi, atau indikasi kerusakan struktural, tidak dioperasikan sebelum dinyatakan aman melalui pemeriksaan teknis,” tegas Masyhud.
Menurutnya, hasil pemeriksaan lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan dan pengamanan berikutnya. Fasilitas yang dinilai berpotensi mengalami kerusakan lanjutan harus diamankan dan tidak digunakan sampai memperoleh kepastian keamanan secara teknis.
Sejumlah Pelabuhan Mengalami Kerusakan
Berdasarkan laporan UPT Ditjen Hubla, gempa tersebut menimbulkan dampak terhadap sejumlah sarana dan prasarana transportasi laut di NTT, dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat.
Di Pelabuhan Laurentius Say, Maumere, gempa menyebabkan sebagian struktur dermaga dan bangunan terminal penumpang roboh. Ketika kejadian berlangsung, KM Bukit Siguntang tengah bersandar di dermaga. Langkah pengamanan kemudian dilakukan terhadap kapal, penumpang, awak kapal, petugas, serta kawasan pelabuhan yang terdampak.
Sementara itu, Pelabuhan Marina Labuan Bajo mengalami keretakan pada tembok kantor dan terminal penumpang serta pada bagian dermaga. Kerusakan juga ditemukan di Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu, berupa keretakan pada tembok bangunan kantor dan gudang.
Dampak gempa di kawasan Labuan Bajo juga sempat menyebabkan sejumlah perjalanan wisata dibatalkan. Namun, layanan pelayaran telah kembali dibuka setelah BMKG mencabut peringatan dini tsunami dan fasilitas dermaga serta terminal penumpang dinyatakan dapat digunakan secara aman.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Pelabuhan Marapokot, khususnya pada bagian causeway dan dermaga eksisting yang mengalami penurunan elevasi. Selain itu, pagar pembatas di kawasan pelabuhan tersebut turut mengalami keruntuhan.
Adapun beberapa pelabuhan lainnya, yakni Pelabuhan Reo, Pelabuhan Ende, dan Pelabuhan Waingapu, dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga sedang. Sedangkan Pelabuhan Larantuka berada dalam kondisi aman dan tidak ditemukan kerusakan.
Masyhud menegaskan, Ditjen Hubla akan terus melakukan pemantauan dan pemeriksaan terhadap seluruh fasilitas transportasi laut yang terdampak. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan sekaligus menjaga konektivitas dan pelayanan transportasi laut bagi masyarakat NTT.
“Kami terus melakukan pemantauan dan pemeriksaan terhadap fasilitas pelabuhan yang terdampak gempa. Prioritas saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat dan petugas, serta memastikan fasilitas yang digunakan untuk pelayanan transportasi laut berada dalam kondisi aman,” ujar Masyhud.
Ia juga meminta masyarakat dan pengguna jasa untuk tetap tenang serta mengikuti arahan petugas di lapangan dan informasi resmi yang disampaikan pemerintah maupun instansi terkait.
“Keselamatan harus menjadi prioritas kita bersama. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas, khususnya di area pelabuhan yang masih dalam proses pemeriksaan,” pungkasnya.
















