portNews.id – Transformasi sektor maritim Indonesia kini tidak lagi bisa hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata. Di tengah derasnya arus perubahan global, kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kesiapan menghadapi digitalisasi justru menjadi faktor penentu utama.
Isu tersebut mengemuka dalam forum nasional Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) yang digelar di Jakarta, Kamis (16/4). Para pelaku industri sepakat, tanpa SDM yang mumpuni dan adaptif, potensi besar maritim Indonesia berisiko tidak tergarap maksimal.
Dewan Pengawas Pramarin yang juga Pengamat Maritim Dr. Chandra Motik Yusuf, menilai Indonesia sejatinya memiliki keunggulan sebagai negara maritim. Namun, keunggulan itu harus diimbangi dengan kesiapan manusianya dalam menghadapi perubahan.
“Kita punya potensi besar, tapi itu tidak cukup. Yang menentukan adalah bagaimana kita menyiapkan SDM yang mampu beradaptasi dan terus berkembang, terutama di era digital seperti sekarang,” ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan di sektor maritim saat ini tidak bersifat parsial, melainkan menyentuh hampir seluruh lini. Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Menurutnya, ke depan persaingan tidak lagi hanya soal infrastruktur atau kapasitas pelabuhan, melainkan kualitas SDM yang mampu menghadirkan inovasi dan efisiensi.
“Kalau kita ingin sektor maritim kita lebih kompetitif, maka investasi terbesar harus ada pada manusianya,” tegas Chandra.
Pandangan serupa disampaikan Dewan Pembina Pramarin, Leon Muhammad. Ia menekankan bahwa digitalisasi harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat sistem, bukan sekadar tren.
“Teknologi itu enabler. Dengan digitalisasi, proses bisa lebih cepat, transparan, dan efisien. Tapi tetap, manusia yang mengoperasikan dan menentukan arah,” jelasnya.
Leon juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem maritim yang solid.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga komunitas profesional menjadi kunci agar transformasi berjalan efektif.
“Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus ada kerja bersama yang terarah supaya semua potensi bisa terhubung dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi,” katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kecepatan beradaptasi akan menjadi pembeda utama di era saat ini.
“Yang cepat menyesuaikan diri dengan perubahan, itu yang akan unggul. Ini juga berlaku di sektor maritim kita,” tambahnya.
Forum ini juga mendorong lahirnya langkah-langkah konkret, mulai dari penguatan program pengembangan SDM, pemanfaatan teknologi dalam operasional, hingga perluasan kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan berorientasi jangka panjang, sektor maritim Indonesia diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih kuat ke depan.***












