portNews.id – Upaya mempercepat layanan kapal di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak terus diperkuat. PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak menghadirkan terobosan melalui optimalisasi Zona Labuh atau Express Anchorage Zone Service (EAZI).
Program ini diperkenalkan bersamaan dengan pembaruan Sistem Operasional dan Prosedur (SISPRO) pelayanan jasa pemanduan dan penundaan kapal, sebagai respons atas meningkatnya kepadatan lalu lintas kapal di Perairan Wajib Pandu Kelas I Tanjung Perak.
Fokus utama dari inisiatif ini adalah memangkas waktu tunggu kapal sekaligus menjaga standar keselamatan pelayaran. Penerapannya akan berdampak langsung pada operasional terminal petikemas yang berada di bawah pengelolaan TTL, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Berlian, dan TPK Nilam.
Kegiatan sosialisasi turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari KSOP Utama Tanjung Perak, Distrik Navigasi Tanjung Perak, KSOP Gresik, Pelindo Regional 3 Sub Regional Jawa, hingga asosiasi pengguna jasa seperti INSA dan ISAA.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, menyebut kolaborasi menjadi kunci utama dalam mendorong keberhasilan transformasi layanan di pelabuhan.
“Koordinasi yang solid antar stakeholder menjadi fondasi penting dalam implementasi program ini. Dengan optimalisasi Zona Labuh melalui EAZI, kami melihat adanya efisiensi nyata, khususnya pada pengurangan waktu ship to ship dan port stay kapal,” ujarnya.
Dalam implementasinya, EAZI memiliki sejumlah ketentuan teknis, di antaranya panjang kapal maksimal 150 meter, waktu tunggu maksimal enam jam sejak berlabuh, serta durasi proses ship to ship tidak lebih dari satu jam.
Selain itu, sistem ini juga diperkuat dengan integrasi digital melalui pelaporan real-time antara platform Inaportnet milik Kementerian Perhubungan dan sistem Phinnisi yang dikembangkan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Integrasi ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem smart port yang lebih transparan dan efisien.
Kepala KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, menilai pemanfaatan Zona Labuh 2 akan memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran arus kapal.
“Optimalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pelayanan kapal, sekaligus mendorong pertumbuhan arus petikemas dan aktivitas ekonomi di Jawa Timur,” jelasnya.
Dari sisi pengguna jasa, implementasi EAZI dinilai mampu memberikan efisiensi waktu yang cukup signifikan. Proses perpindahan kapal dari kondisi lepas sandar hingga kembali sandar yang sebelumnya memakan waktu 4 hingga 6 jam, kini ditargetkan dapat ditekan menjadi maksimal 2 jam.
Perwakilan PT SPIL, Harmin, menyambut positif langkah tersebut.
“Program ini memberikan solusi konkret terhadap efisiensi operasional kapal. Kami siap mendukung implementasinya untuk memperlancar distribusi logistik,” ujarnya.
Ke depan, optimalisasi layanan melalui EAZI diharapkan mampu memperkuat kinerja logistik di Jawa Timur. Dengan waktu tunggu yang lebih singkat dan sistem yang semakin terintegrasi, TTL optimistis dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan throughput petikemas sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.***












