portnews.id — Peningkatan arus kendaraan logistik di Pelabuhan Ketapang mulai terasa signifikan setelah berakhirnya pembatasan operasional truk sumbu tiga ke atas. Lonjakan ini sempat memicu antrean panjang, namun secara bertahap mulai diurai melalui serangkaian langkah operasional yang diperkuat di lapangan.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan penanganan dilakukan secara terkoordinasi dengan melibatkan berbagai pihak. Fokus utama diarahkan pada percepatan layanan tanpa mengabaikan ketertiban arus kendaraan menuju pelabuhan.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengatakan pihaknya terus memperkuat koordinasi untuk menjaga kelancaran lintasan Ketapang–Gilimanuk.
“Kami terus berupaya agar antrean bisa segera terurai dan layanan kembali stabil. Sinergi dengan seluruh stakeholder menjadi kunci dalam penanganan ini,” ujarnya.
Dari sisi operasional, pengaturan dermaga menjadi salah satu langkah utama. Dermaga 1 hingga 3 diprioritaskan untuk kendaraan penumpang, sementara dermaga 4 dan LCM difokuskan melayani kendaraan logistik. Skema ini dinilai mampu memperlancar proses bongkar muat karena meminimalkan percampuran jenis kendaraan.
Selain itu, ritme layanan kapal juga ditingkatkan untuk mempercepat pergerakan kendaraan. General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menyebut seluruh armada dan fasilitas dioptimalkan agar waktu sandar kapal bisa ditekan.
“Kami dorong percepatan turn around time kapal supaya antrean tidak menumpuk terlalu lama. Semua lini operasional kami maksimalkan,” jelasnya.
Penguatan penanganan juga dilakukan di luar area pelabuhan. Arus lalu lintas di jalur menuju Ketapang dikendalikan melalui koordinasi dengan aparat, termasuk dukungan personel TNI yang turut membantu pengaturan di lapangan.
Di sisi lain, pengoperasian buffer zone menjadi solusi untuk menahan lonjakan kendaraan agar tidak langsung masuk ke kawasan pelabuhan. Area Pusri dimanfaatkan untuk menampung truk sumbu tiga, sementara buffer zone Bulusan menampung ratusan kendaraan logistik lainnya.
Meski antrean kendaraan dari arah utara sempat mencapai sekitar 7 kilometer hingga kawasan Parasputih, pergerakan kendaraan menuju dermaga tetap berlangsung. Waktu tempuh dari pintu masuk ke area pelabuhan tercatat masih berada di kisaran 20 hingga 35 menit.
Data Posko Ketapang mencatat, selama 24 jam pada H+10 Lebaran (1 April 2026), sebanyak 47.961 penumpang menyeberang dari Jawa ke Bali atau naik 16 persen dibanding tahun lalu. Secara kumulatif, total pergerakan sejak H-10 hingga H+10 mencapai lebih dari 761 ribu penumpang dan 201 ribu kendaraan.
ASDP juga mengingatkan pentingnya disiplin pengguna jalan dalam mendukung kelancaran arus. Pengendara diimbau untuk tidak melawan arus karena dapat memperparah kepadatan dan menghambat proses penguraian antrean.
Dengan berbagai langkah tersebut, ASDP memastikan layanan penyeberangan di lintas Ketapang–Gilimanuk tetap berjalan aman dan terkendali, meskipun di tengah tingginya tekanan arus logistik pascalebaran.***

















